Weew… tak kuduga sebelumnya, Hari Senin pagi, aku diminta oleh Mas Bayu untuk menghadiri Seminar tentang Entrepreneurship dan Innovation, di gedung University Club UGM. Mas Bayu meminta saya ikut ke sana karena Mas Hari yang sudah terdaftar untuk mengikuti acara tersebut ternyata tidak dapat hadir pagi hari itu.
“Lho..aku!?” Hehe.. itu kata yang saya ungkapkan ketika saya diminta untuk hadir ke seminar. Yah, maklum.. hawa gak pede mulai hinggap, soalnya seminar jenis seperti ini belum pernah aku ikuti sebelumnya. Jujur aja, hawa gak pede itu masih ada, walaupun pukul 08.15 Mas Yoga udah ngajak aku berangkat naik motor … ngeeeng!
Sampai di sana, markir motor, masuk ruang, nerima book note & fotokopian slide, and mencari tempat duduk yang agak depan. Well, ini mungkin mengindikasikan bahwa hawa gak pede dah mulai sirna. Kemudian, aku sedikit ngobrol sambil nunggu acara dimulai.
Waktu menunjukkan pukul 09.00, dan Pak Tony Aryanto mulai berdiri di atas mimbar untuk menyampaikan welcome speech. Pak Tony ini ternyata adalah Wakil Rektor III UGM. Well kuakui, aku adalah mahasiswa UGM yang tidak pernah hafal nama pejabat-pejabat Wakil Rektor UGM. Hehe…
Di mimbar itu beliau menyampaikan bahwa UGM katanya baru mulai membuat program-program yang akan memupuk jiwa enterpreneurship bagi semua kalangan baik internal (mahasiswa, dosen) maupun eksternal (masyarakat luas). Beliau juga pernah ngobrol dengan Ciputra tentang minimnya jumlah enterpreneur di Indonesia. Katanya, di Indonesia sekarang 1 enterpreneur menghidupi rata-rata 5000 karyawan. Seharusnya, kalo negara mau maju, 1 enterpreneur harusnya menghidupi sekitar 50 karyawan, seperti Jepang & Amerika. Ok, Pak! That’s good point. Thanks!
Setelah Pak Tony turun, baru kemudian ke nara sumber yang diundang. Nara sumber pertama yang diperkenalkan kepada audiens adalah Saptuari Sugiharto. Dia adalah pendiri dari Kedai Digital. Dari sejarah karirnya, diceritakan bahwa dia pernah jualan celana dan stiker. Di acara itu, dia adalah nara sumber yang ditunjuk sebagai moderator. Ok pak Saptu selamat berkarya & selamat menjadi moderator acara.
Berikutnya yang maju sebagai pembicara adalah ibu Nurul Indarti. Dia adalah nara sumber yang diundang untuk mewakili kalangan akademik. Ternyata dia adalah salah seorang dosen di fakultas Ekonomi. Di acara itu, dia menyampaikan hal-hal teoritis mengenai inovasi dan hubungannya dengan enterpreneurship, mulai definisi sampai survey terkini. Well, jujur aja sih ya… pada saat bu Nurul bicara, saya tidak begitu interest dengan materi yang dia sampaikan. Saat itu justru naluri kelakianku yang bekerja. Saya justru interest dengan orang yang menyampaikan materi. Ya, saya tertarik dengan beliau. 
Aku berpikir, kok ada ya, perempuan cantik, muda, gaya bicara lugas, pinter, lagi ngambil Ph.D… wow! Subhanallaah… semoga cita-cita & karirnya bisa jadi barokah buat dia, keluarganya, & masyarakat luas. Coba kalo dosen teknik kayak ibu Nurul ini, pasti mahasiswanya pada rajin kuliah.. hehe…
Kembali ke materi seminar, yang pasti bu Nurul sudah menyampaikannya dengan sangat baik. Makasih bu!
Oke, setelah pergi sejenak untuk menghampiri toilet, aku mengikuti materi selanjutnya. Sebagai pembicara berikutnya adalah dr. Gideon Hartono. Dia adalah pendiri Apotek-K24. Aku lihat sih, beliau menyampaikan materi dengan agak terbata-bata. Terasa agak kaku, seperti orang yang tidak pandai bicara di depan umum. Tapi, materi yang dia sampaikan sungguh luar biasa. Mulai dari merintis apotek di satu gerai, dua gerai, sampai membuatnya menjadi sebuah bisnis waralaba hingga menjadi ratusan gerai dari Aceh sampai NTT. Hebat ya, dokter tapi punya bisnis fotografi, apotek, sampai laboratorium medis. Good point pak dokter!
Pembicara berikutnya adalah Gonang Djuliastono, perwakilan dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia DIY (HIPMI DIY). Dia memiliki bisnis di bidang persewaan tenda. Hmm.. that’s simple. Dia berbicara mengenai aspek2 yang berkaitan dengan hambatan-hambatan bisnis, dan penyelesaiannya. Ok… sisi yang menarik untuk disimak.
Well, overall seminar yang sungguh menarik. Kalau boleh aku simpulkan, enterpreneurship harus didukung oleh adanya inovasi, diarahkan oleh adanya visi, dan harus dijalankan dengan action. Kita tentu harus melakukan langkah pertama untuk mencapai 1000 mil yang hendak kita tuju.
Thanks to all. Alhamdulillaah.